Bagi banyak orang, khususnya orang Jawa, rempeyek adalah lauk pendamping saat menyantap makanan. Layaknya kerupuk, selalu dicari dan disukai. Buktinya rempeyek apapun jenisnya selalu laris di pasaran.

Hal inilah yang mengilhami Deli Agustina, perempuan asal Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung menekuni bisnis produksi rempeyek. Beberapa jenis rempeyek seperti rempeyek kacang, rempeyek teri, dan rempeyek udang dia produksi setiap hari.

Meski awalnya sekadar iseng, kini bisnis yang dia jalani terbilang meningkat pesat. Jika dahulu saat memulai usaha dia hanya memproduksi rata-rata 20-30 bungkus rempeyek, kini dapurnya harus membuat 280 bungkus rempeyek per hari.

Untuk produksi tersebut, setiap hari dapurnya harus mengolah 20 kg bahan mentah. Karena tuntutan produksi itulah dia harus mempekerjakan 4 orang karyawan.

Sebagian warung dan outlet jajanan di Kabupaten Tulungagung, terutama di Kecamatan Ngantru sudah menjadi pelanggan produk rempeyek olahan Deli. Kini dia sedang berpikir untuk memperluas pasar. Salah satunya dengan memperbaiki kemasan agar segmen konsumen dari perkotaan juga meminati produknya.

Bagaimana reaksi anda mengenai artikel ini ?

Tinggalkan Komentar

Komentar anda tidak akan dipublikasikan, jika formulir yang ditandai * tidak diisi.